PERJALANAN MAHA RSI MARKANDEYA KE PULAU BALI
Maha Rsi Markandeya merupakan seorang yogi yang sangat berjasa yang membangaun Pura terbesar di Indoneisa serta maha rsi yang menata peradaban umat Hindu pertama kali dipulau Bali. Menurut kitab Markandeya Purana beliau berasal dari India selatan yang medapatkan pawesik untuk melakukan perjalanan suci ke Nusantara, sampailah beliau di pulau jawa dan melanjutkan perjalanan pertamanya di gunung Damulung ( Gn. Merbabu sekarang ) dan berlanjut ke Gunung Dieng. Disana beliau mendirikan sebuah pasraman dan melakan pertapaan disana .
Rsi Markandeya menyadari bahwa disana telah banyak yogi ( kata Yogi berasal dari bahasa Sanskerta dan merupakan istilah untuk pria yang mempraktikkan berbagai bentuk pelatihan spiritual. Pada saat Maha Rsi Markandeya melakukan tapa Samadhi beliau merasa tidak nyaman dan di ganggu mahluk astral yang berada di sekelilingnya. suatu ketika saat itu terjadi suatu bencana alam, sehingga pusat Kerajaan Mataram dipindahkan ke wilayah Jawa Timur. Maharsi Markandeya juga ikut berpindah ke arah timur sehingga pada akhirnya bermukim di daerah Gunung Raung (Jawa Timur)
Digunung Raung
beliau kembali melakukan pertapaan di gungung raung yang kemudian tempat
peyogaan tersebut di bangun sebuah pura yang bernama Pura khayangan Gunung Raung. disana kembali beliau mendapatkan
pawesik untuk membuat pemukiman di pulau panjang ( sekarang pulau Bali ) dikatakan
pulau panjang adalah karena beliau mengira bahwa pulau Bali merupakan pulau
yang sangat panjang yang tembus hingga pulau Lombok, Sumbawa hingga kebagian
timur lainnya. Jika kita melihat pulau bali menggunakan google map dengan
tampilan 3 dimensi jika dilihat dari perspektif alas purwo mengarah ke pulau
bali memang terlihat seperti pulau yang panjang. Kemudian , maha rsi melakukan
perjalanan dan diikuti dengan 800 orang pengikutnya yang di sebut orang aga.
Sebelum Maharsi Markandeya datang ke Bali sudah ada orang-orang yang lebih dahulu berada di Bali yaitu orang-orang keturunan Austronesia. Orang-orang Austronesia telah lebih dulu menyebar di seluruh wilayah Bali. Mereka tinggal dengan pemimpin mereka masing-masing. Kelompok inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. Mereka disebut orang Bali Mula. Pada saat itu Orang Bali Mula belum menganut agama, mereka hanya menyembah roh-roh para leluhur. Beliau datang ke Bali menyeberangi Segara Rupek (Selat Bali), kemudian rsi Markandeya memerintahkan pengikutnya untuk merabas semank belukar, dedaunan, serta pepohonan yang menutupi jalan yang sangat rambah dan menyebabkan jalan menjadi sulit dilalui. sesampainya rsi Markandeya di wilayah lereng Gunung Tohlangkir ( Gunung Agung sekarang ) disana kemudian dibuatkan untuk lahan pertanian, dan tempat pemukiman untuk para pengikutnya kemudian secara misterius sebagian besar pengikutnya mengalami kematian baik diserang Binatang buas atau terkena penyakit misterius, sehingga beliau memutuskan untuk kembali ke gunung Raung..
kemudian maharsi Markandeya kembali ke gunung Raung, beliau merenung dan memikirkan apa yang
terjadi di pulau Bali, kemudian beliau kembali melakukan Samadhi dengan
kekhusukannya beliau melakukan Samadhin dan diketahui bahwa alasan
pengikutnya banyak meninggal karena Beliau belum melaksanakan upacara agama
yaitu menanam Panca Datu yang terdiri dari lima jenis logam yaitu emas, perak,
perunggu, tembaga, dan besi. Kemudian Maharsi Markandeya kembali lagi ke pulau bali
yang di ikuti oleh 400 orang pengikutnya dan menanamkan panca datu di kaki
gunung Agung. Akhirnya selamat lah para pengikut beliau dan tidak lagi terkena
wabah penyakit dan musibah lainnya oleh karenanya Dari sini lah asal mula bahwa setiap umat Hindu di Indonesia yang akan membangun atau mendirikan tempat suci atau tempat ibadah seperti pura dan lain lain wajib menanamkan panca datu.
Dalam
perjalanan Maharsi Markandeya menyebarkan Agama Hindu di Bali, Beliau banyak
membangun tempat suci salah satunya yaitu Pura Payogan Agung Gunung Lebah yang
berlokasi di Ubud. saat perjalanannya beliau tiba di sebuah lereng bukit
kecil yang memanjang ke arah Selatan dan utara , bukit ini diapit oleh dua
Sungai. Kedua Sungai ini memiliki muara yang bertemu sehingga dinamakan Sungai
Campuhan. Campuhan dalam Bahasa bali artinya bercampur. Di daerah sana Beliau
serta pengikutnya membuka lahan lalu membagikannya kepada pengikut-pengikutnya.
Di sana juga beliau membuat tempat pertapaan yang akhirnya berkembang menjadi
Pura yang bernama Pura Payogan Agung Gunung Lebah.


Komentar
Posting Komentar